Senin, 03 Desember 2018

Best Friend

Kemarin adalah hari yang bahagia.

Sahabatku.

Akhirnya dia menerima jalan bahagianya lagi.

Setelah 1 tahun (kalau ga salah),

kesiksa sama "momok mantannya"

Dan lika-liku ceritanya yang hampir sama kayak aku.

Dan jalan bahagianya pun hampir sama juga kayak aku.

Entah ini takdir yang ga disengaja atau memang dibuat Pencipta seperti ini.

Agar kami berdua tidak merasa saling kesepian dalam menghadapi segala masalahnya?

Mungkin kalian yang sudah banyak blog ku sebelumnya bakal paham ceritanya.

Hampir sama persis banget.

Dibuat beda dengan kita cara menangani masalahnya.

Mungkin aku lebih yaudahlah ya.

Ani, seperti biasa nama samaran. Hehe...

Ani lebih emosional. Bukan. Ekspresif.

Aku paham betul apa yang dirasakan Ani pas disaat down.

Desperated pasti. Mau cerita? Iya kalo yang diceritain bisa bener-bener pahamin kita.

Karena aku sempet mikir gitu,

juga bukan tipikal orang yang suka cerita sama banyak orang,

ceritaku selalu aku pendam atau aku turahin kesini buat menggambarkan kalau kalian ga sendiri.

Kalian kuat.

Kalian bisa menghadapi segala masalah hidup ini.

Masalah jodoh, rejeki, dll.

Jadi, ketika Ani disaat dalam posisi seperti itu,

aku sangat berusaha semaksimal mungkin buat ada disampingnya.

Ada buat dia gemes-gemes menye dengan salah satu hobi barunya.

Ada buat dia ketika dia sedang berekspresif dalam cerita "momoknya".

Ada kita dia lagi bener-bener butuh "pelukan"

Aku sangat begitu paham perasaan itu.

Ketika aku ada di perasaan itu, kebayangkan kesiksa ku gimana?

Cerita temen ya itu tadi. Iya kali memahami.

Ga memahami malah menggurui. Kebanyakan.

Paling benci hal itu.

Seakan bisa melalui dengan pemahaman tersebut.

Ketika diposisiku? Kebanting ga karuan. Mayoritas.

Mangkanya aku lebih memilih diam dan menyimpan semuanya. Sendiri.

Tapi, aku ga pengen kalian atau bahkan orang terdekatku ngerasain apa yang pernah aku rasain.

Memahami. Itu caraku menghealing perasaanku sendiri.

Jujur, Ani adalah karakter yang sangat, bisa dibilang berprinsip tinggi.

Aku salut dengannya.

Di kota "asal perantauannya", dia bisa berdiri tegap menghadapi masalahnya.

Tanpa seorang pun yang bisa dibilang seperti aku.

Yang sangat dekat.

Rata-rata temannya hanya tahu kalau dia sosok easy going.

Sungguh salut.

Sempet takut banget banget dia bakal hopeless buat ikhtiar cari jodoh.

Ikut sedih kalau tahu ceritanya yang bisa dibilang sangat random dan ga kearah.

Dan alhamdulillah banget.

Kemarin bener-bener kabar yang bikin aku cekikikan sendiri.

Kita chatting membahas progress dia dengan ikhtiarnya.

Karena kita selalu hampir sama.

Entah dia dulu atau aku dulu yang punya cerita.

Setelahnya pasti ceritany hampir sama.

Aku sempet buat dia optimis
"Aku yakin, Ni. Abis gini kamu ikut bahagia sama kayak aku. Malah lebih bahagia."
"Amiiiin. Gatau lah. Yang penting sekarang aku beresin kuliah dulu sama kerja."
"Iyaaaa. Pokoknya semangat ya, Ni. Banyakin berdoa. Minta supaya segalanya dilancarin."
"Iyaaaa"
Itu percakapan kita mungkin 1-2 bulan yang lalu.

Dan kemarin yang bikin aku bahagia adalah akhirnya dia ngedapetin apa yang dia harapin selama ini.

Satu rumpun, kerja swasta, sesuai apa yang diharapkan Ani.

Dan nanti tanggal 24 dia bakal ketemu 2 keluarga!

Masya Allah. Aku denger langsung kegirangan.

Sempet terharu akhirnya jalannya dipermudah.

Sudah lega karena apa yang aku takutin sudah hilang.

Dan lega juga karena perjuanganku nemenin dia ga sia-sia.

Sueneng ga karuan sampe sekarang.

Insya Allah dilancarkan segala urusannya.

Dan rencananya beres idul adha nikah.

Amin Allahuma Amin Ya Allah.

I'm so happy for you, My N ❤

Selasa, 06 November 2018

Berjuang

Apa kalian pernah denger kata ini?

Apa yang terlintas di pikiran kalian tentang kata ini?

Mayoritas bakal punya pikiran kalau kata ini identik dengan keterkaitan 2 orang

atau lebih yang sedang "mempertahankan" sesuatu.

Tapi makin tambah usia, makin banyak cerita, makin bikin mindset berubah.

Ternyata perjuangan itu ga se"simple" kayak pemikiran mayoritas orang.

Berjuang dengan diri sendiri untuk "menampilkan" bahwa bukan seperti yang dipikir.

Berjuang merubah diri sendiri jadi lebih baik agar bisa mendapatkan yang menurutnya baik.

Berjuang mempertahankan diri dengan prinsip.

Menurutku, kata ini sungguh banyak artinya.

Dikembalikan lagi kepada sudut pandang masing-masing.

Kita harus menghargai setiap sudut pandang orang apabila sudut pandang kita juga ingin dihargai.

Ambil yang positif, ambil yang mau dicoba.

Buang yang negatif, buang yang buat kamu jadi manusia yang tidak mau berkembang.

Berjuanglah menjadi manusia yang lebih bisa berfikir secara positif.

Menurutku, itu adalah awal untuk kalian yang sedang berjuang.

Dalam hal apa pun.

Jangan lupa selalu berdoa. Mintalah kemudahan, kelapangan, keikhlasan.

Hati mudah rapuh.

Bisa tersakiti hanya dengan keinginan, harapan yang tidak sesuai keinginan.

Rabu, 31 Oktober 2018

Robin

Nama ini... cuman samaran. Hahaha...

Yang jelas,

karena orang ini,

pandangan hidupku berubah.

Ternyata dunia ini penuh kejutan,

kalau kita selalu bersyukur dan pasrah.

Bisa dibilang, sampai sekarang pun aku masih setengah ga percaya.

Perjalanan hidupku segeli ini.

Sahabat-sahabatku juga banyak yang ga percaya setelah aku cerita ini.

Aku sama Robin temen SMP.

Mungkin sedikit banyak aku uda cerita di cerita sebelumnya.

Kita bener-bener cuma temen nyapa.

Ketemu nyapa.

And that's all!

Kita ga pernah ngobrol.

Bener-bener cuman nyapa aja selama di SMP.

Lulus SMP jelas uda bisa ketebaklah.

Ya kita ga ada kontak lanjut.

Ya mungkin setelah-setelahnya kita cuman saling follow aja di instagram.

Udah. Bener-bener udah gitu aja.

Percaya ga kita baru ngobrol itu baru pas acara reuni SMP?

Itu pun kita ngobrol yang menurutku itu cuman basa-basi bla bla lah.

Aku juga ga inget kita  ngobrol apa juga.

Dan setelah acara itu, yaudah.

Selesai.

Coba bayangin aja.

Dari 2005 - 2008 cuman nyapa,

2015 setelah sekian lama kita baru ngobrol.

BARU NGOBROL SELAMA BEBERAPA TAHUN, GEEENGGGSSSS!!!

2018 baru 'ngobrol' lagi. Ga lama ngajakin serius.

Beberapa bulan kemudian, lamaran.

Dan 2019 uda mau nikah aja ma doi.

Masuk akal ga? Aku aja mikir sampe sekarang suka geli sendiri.

Dan kalian tahu, dulu aku paling gedeg sama ni anak.

Sok kecakepan wkwk. (maapin yeee. tapi emang iye sok2an lu. hihi)

Kadang suka mikir sendiri sih,

apa yang ngebuat akhirnya kita nyambung.

Tapi emang ga ada sambungannya sama sekali.

Cuman beberapa faktor tapi ga terlalu berpengaruh.

Doi mantannya sahabatku.

Dan itu pun pas SMP.

Malah aku baru tau dari doi.

Lucu kan?!

Cuman kita berdua yakin.

Kita nyambung karena ada Allah.

Ya kayak kalian tahu sebelumnya aku pernah berjuang dengan caraku sendiri.

Dan Robin dengan caranya.

Di jalan Allah.

Kurang paham sih Robin caranya gimana.

Yang pasti doi setahun kebelakang lebih dekat dengan Yang Punya Hidup.

Itu doang yang aku paham,

Dan yang makin gelinya,

Apa yang aku harapkan selama ini, Alhamdulillah ada di doi.

Dari dulu paling demen liat laki tinggi, pake kacamata, putih, pinter.

Terus dari dulu kepingin punya calon yang bisa diajak makin istiqomah setelah nikah.

Yang pasti juga kepingin yang direstui sama Umi dan diterima sama keluargaku.

Alhamdulillah banget. Allah Maha Baik. Maha Mendengarkan hambanya yang penuh dosa ini.

Maha Penyayang, Pengasih.

Doa ku dikabulin. Diambrekin ke Robin semua.

Allhamdulillah Wa Syukurillah.

Sekarang kita berdua hanya bisa saling mendoakan agar segalanya lancar sampai seterusnya.

♥️SF

Kamis, 04 Oktober 2018

Bahagia

Menurut kalian, definisi dari bahagia itu apa?

Punya banyak harta?

Punya mobil mewah?

Punya rumah mewah?

Bisa keliling dunia?

Itu pandang dari mayoritas orang.

Menurutku, bahagia adalah kemerdekaan hati.

Apa itu?

Tidak bingung akan hal apa pun.

Ya ga dipungkiri semua manusia memiliki masing-masing masalah.

Tapiiii...

Setidaknya yang bisa diminimalisir masalah tersebut.

Itulah definisi bahagia.

Menurutku.

Bahagia juga bisa diartikan

sudah mencapai goals yang ingin dicapai.

Pernyataannya,

apakah bahagia itu bisa tanpa keterkaitan dengan seseorang?

Sekali lagi.

Menurutku, pasti ada keterkaitannya dengan seseorang.

Entah dari cara mencintai,

cara bersosialisasi,

cara berinteraksi,

banyak.

Pada intinya,

kebahagiaan bisa didapat dengan cara pribadi masing-masing.

Ada yang bahagia dengan hidup sederhana.

Ada yang bahagia dengan hidup menyendiri.

Semua pilihan.

Sabtu, 18 Agustus 2018

Before Married

Menikah.

Pandangan kalian tentang kata ini apa sih?

Enak?

Seru?

Apa kalian tahu proses sebelum menikah sampai sudah nantinya?

Apa kalian sudah tahu benar tanggung jawabnya?

Sebagai Suami?

Sebagai Istri?

Sebagai Menantu?

Sebagai Anak?

Karena kebanyakan pasangan muda salah kaprah.

Terpancing dengan tagline
Enak loh nikah muda
Mungkin aku belum mengalami proses seperti diatas.

Tapi diumurku yang sudah 'matang',

banyak teman-temanku sudah masuk fase 'Kehidupan Baru'

Kurang lebih aku bakal ngasih pandangan, lebih tepatnya dari cerita teman - temanku.

Diterima atau tidaknya padanganku, hak kalian masing - masing.

Aku cuman pengen sharing aja sesuai dengan pandanganku pribadi.

PRA NIKAH

Apa tuh pra nikah?

Pacaran? Bukan.

Pengenalan? Bisa jadi.

Pra nikah itu proses sebelumnya terjadi pernikahan.

Proses sebelumnya itu bukan berarti dari kita setelah lamaran/ khitbah.

Proses sebelumnya yang paling awal adalah dari kita sendiri.
Kriteria seperti apa yang dicari?
Realistis ga kriteria yang aku cari? 
Bila ada kekurangannya, sudah siapkah dia terima?
Apabila dia ada kekurangan, siapkah kita menerimanya?
Terus kalau kita ga diterima, next stepnya gimana? 
Ingin membina keluarga yang seperti apa?
Tanggung jawabku yang sebenernya apa aja sih?
Kalau nanti aku jadi Suami/ Istri, aku harus gimana sih? 
Apa sudah bisa menerima itu semua dengan menahan ego? 
 Apa sudah siap dengan segala kondisi berdua tanpa bantuan orang tua lagi?
Kurang lebih ini yang harus dipertimbangkan dengan matang sebelum menginjak fase lebih serius.

Kalau kalian sudah siap,

dengan pertimbangan dan konsekuensi seperti yang sudah digambarkan diatas,

jalinlah relasi dengan someone atau ke tahap selanjutnya dengan pasangan.

Lihat keluarganya dan perlihatkan keluargamu.

Perlihatkan keluargamu.

Ceritakan sedikit saja tentang keluargamu.

Lihat reaksinya.

Kalau menurut kalian meragukan/ tidak bisa berkompromi dengan prinsip,

Jalin silahturahmi saja.

Kalau menurut kalian sebaliknya, coba bersilahturahmilah ke keluarganya.

Bila sudah sesuai apa yang kalian harapkan, lanjut ke tahap berikutnya.

Itikad baik.

Apa sudah mengutarakan/ diutarakan kepada pasangan?

Ini penting.

Kalau ga ada pernyataan ini ya dianggep friend zone (wkwk. candaaaa).

Musyawarahkan dengan keluarga.

Minta restu ke orang tua.

Terutama restu Ibu itu penting dan berpengaruh besar.

Kurang lebih seperti itu proses pra nikah.

Mantapkan diri - Kenali pasangan - Kenali keluargamu dan keluarganya - Itikad Baik.

Jangan dibalik

Ga banyak pasangan ribut sebelum nikah karena 'gangguan'

Keluarga dari pihak sana ribet minta ini itu.

Keluarga dari pihak sini minta ini itu.

Belum lagi pasangannya lagi 'rewel'

Akhirnya ditengah jalan pasrah karena uda mau jadi acara.

Menurutku, konyol.

Kalian masih ada waktu sebelum terjadi lamaran buat mantepin dengan cara masing - masing.

Solat malam.

Ibadah malam.

Mengadu dengan Allah/ Tuhan.

Jangan lepas sama satu ini.

Karena Yang Maha Menggerakan Segalanya.

Jadi jangan cuman makan cinta,

sama realistis yang jatuhnya jadi terlalu pemilih.

Terlalu makan cinta juga bikin deg-degan aja.

Ga bikin kenyang.

Walaupun indomie bikin bodoh (katanyaaaa), tapi masih bikin kenyang.

Religi dan realistis harus imbang.

Insya Allah, semua bisa diatasi kalau kitanya sudah siap. Apalagi siap secara mental.

Beda cerita kalau memang semua sudah diatur oleh Allah/ Tuhan.

Musibah.

Pasti kita ga tau dan ga bisa buat mengelak.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Kerabat

Hi gengs! Hehe...

Monmaap kalau bahasanya ga aku tata.

Antara aku ngantuk sama laper sama unmood.

Jadi kalo aku bener-bener free banget, aku revisi - revisi lagi deh. Hehe...

Jadi, menyambung ceritaku sebelum ini yaaa.

Gimana sih ceritanya tentang Kerabat,

Temen SMA yang tiba-tiba ngajakin nikah.

Awal cerita nih,

Sebenernya aku tahu dari pacarnya temenku.

Ya sama sih temen SMA juga.

Intinya, pacarnya temen aku bilang kalau Kerabat ini sudah suka aku sejak SMA.

Aku lupa gimana pastinya,

Yang jelas kita sempet ada kontak lewat Whatsapp.

Bla bla bla...

Doi tiba-tiba ngajakin nikah.

Secara spontan aku nyuruh doi buat salat Istikharah.

Dilaksanakanlah sama Kerabat.

Di mimpi Kerabat,

aku dan Kerabata ijab qabul di depan Almarhum Ayah.

Dan itu sebanyak 2x,

dengan mimpi yang sama.

Aku ga langsung percaya.
'Kamu pas solat ada feeling apa gitu ke aku? Atau kepikiran apa gitu ke aku?'
'Enggak. Aku pasrah pas ngelakuin salat itu.'
'Sama sekali enggak kepikiran kebesit gitu?'
'Enggak. Aku pasrah kok sama semua jawabannya.'
Aku masih ragu.

Sepahamku, ngelakuin Salat Istikharah itu bukan hal mudah.

Harus bener-bener pasrah lillahita'ala sama jawaban yang Allah kasih.

Suka maupun ga.

Tapi denger cerita Kerabat aku masih kurang yakin.

Akhirnya, aku bilang kalau gantian aku yang bakal ngasi jawaban.

Dengan ngelakuin Salat Istikharah.

Menghindari jawaban bias.

Aku juga cerita ke Umi itikad baiknya Kerabat ini.

Umi akhirnya minta ketemu dulu.

Ini yang bikin jengkel.

Singkat cerita, dia janji buat nemuin Umi besok di rumahku pada pagi hari.

Aku sampaikan ke Umi nih.

Esok harinya, pada pagi hari,

Doi ga ada kabar.

Siangnya, aku Whatsapp menanyakan jadi enggaknya ke rumahku.

Ternyata Kerabat ada kerjaan dan dia bilang sore baru bisa ke rumah.

Oke. Aku sama Umi tunggu kabar dia sampe sore juga dia ga ngasi kabar sama sekali.

Disitu aku mulai muntab.

Karena urusannya bukan sama aku. Sama Umi.

Dan secara tidak langsung, dia tidak menghargai Umi sama sekali.

Aku sudah marah-marah ke Umi soal Kerabat,

Umi ngademin aku dengan berfikir positif.
'Mungkin kerjaannya ga bisa ditinggal, Fa'
HELLLOOOOO!!!!

5 menit ngeWhatsapp bilang,
'Bilang ke Umi maaf ga bisa kesana hari ini soalnya kerjaan belum bisa ditinggal, nih'
Susah?

Okeeee. Akhirnya baru magrib doi baru ngasih kabar kalau baru kelar kerjaan.

Cuman aku read. Ga aku kasih respon.

Uda lumayan lama ga hubungan,

Aku ngehubungin. Karena sangkut pautnya sama mimpi Umi.

Yang Umi bilang kalau ada sosok baru.

Tinggi, rambut lurus.

Aku spekulasi kalau itu ke arah si Kerabat.

Aku tanya doi,
'Kamu masih nunggu jawabanku enggak? Apa kamu uda punya calon lain?'
'Masih, lah. Kenapa?'
'Kayaknya uda mulai keliatan. Cuman belum jelas. Nanti aku kabari lagi kalau emang sudah jelas.'
Dari percakapan itu, kita lanjut obrolan basa-basi.

Sampai kita sudah lost contact. Lagi.

Akhirnya, mulai aku laksanakan Salat Istikharah itu.

Dan lucunya,

Kayak cerita sebelumnya,

Doi nge - block aku tanpa sebab.

Padahal aku uda ga pernah ngechat.

Ganggu aja enggak.

Ngomong seperlunya.

Bales seadanya.

Dan terakhir yang aku tahu kabar kenapa dia ngeblock adalah,

Karena dia ada masalah keluarga.

Doesn't make it sense!

Sumpah ngakak sih aku dengernya.

Aku cuman bisa mendoakan dari jauh kalau masalah keluarganya cepet selesai. Amiiin....

Kamis, 02 Agustus 2018

Jawaban

Benar kata orang kalau dunia ini cuman fana.

Terkadang hal yang kita ga duga, bisa jadi kejadian.

Sedikit cerita,

Aku jalanin salat Istikharah selama -/+ 2 bulan.

Yaaaa.. seperti yang kalian tahu pilihannya.

Orang Ini dan Si Mantan.

Ditambah Kerabat (ceritanya setelah blog ini. hehe)

Butuh perjuangan juga sih buat jalaninnya.

Kadang bolong-bolong.

Kadang masih debat sama Umi.

Tapi dijalani karena rasa penasaran sama diri sendiri sih.
Beneran ga sih aku sama Si Mantan bener-bener ga bisa?
Masak sih Orang Ini jodoh ku?
Apa Kerabat yang jadi terakhir?
Dan aku berusaha buat Istikharah dengan perasaan sangat pasrah.
hamba yakin Engkau Maha Baik Maha Benar dalam memberikan keputusan pada hambanya. 
hamba tidak pernah meragukan sedikit pun jawaban apa pun yang Engkau berikan pada hamba. karena hamba yakin Engkau lah Maha Segalanya. hamba percaya sepenuhnya pada Mu, Ya Allah. hamba hanya makhluk yang tidak bisa apa-apa tanpa bantuan dan pertolongan Mu. 
berikanlah hamba petunjuk dari ketiga nama yang hamba sebut yang menurut Engkau bisa menjadi Imam dan bisa membina keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah bagi hamba. yang bisa menyayangi keluarga hamba terutama memperilakukan Ibu hamba seperti Ibunya. yang ingin menikah karena ingin ibadah kepada Mu, Ya Allah.
Kurang lebih yang aku panjatkan di salat Istikharah seperti ini.

Dengan perasaan yang sepasrah mungkin.

Mengharapkan jawaban menurut Allah terbaik.

Jujur, kenapa akhirnya aku Istikharah.

Capek ngeyel sama Umi. Hahaha...

Emang iya.

Aku mikir, Yang Punya Hidup aja punya jawaban yang terbaik,

ngapain ngeyel debat sesama manusia?

Kalau kita uda dapet jawabannya, kita bisa ngeyel atas nama Allah.
Masak mau ngelak kalau Allah udah ngasih jawabannya?
Dan juga aku sudah mengikhlaskan kalau memang jawabannya aku sama Si Mantan ga jodoh.

Itu kunci mutlaknya sih.

Kalau kita Istikharah masih ada perasaan ke salah satu nama yang kita sebut,

kemungkinan besar jawabannya bias/ masih ikut dalam perasaan.

Menurut kebanyakan orang, mereka diberi petunjuk lewat mimpi.

Udah sebulan aku lakukan, ga ada mimpi sama sekali.

Malahan aku mimpi bareng Teman. Duuuuhhh...

Tapi Umi cerita kalau Umi mimpi.

Yang pertama mimpi Orang Ini.

Umi jengkel sama Orang Ini.

Orang Ini minta maaf gitu ke Umi sambil mohon-mohon.

Yang kedua Si Mantan.

Tiba-tiba Si Mantan datang ke rumahku tanggal 27.

Umi bilang,
Loala, Le. Ifa uda dilamar orang.
Lucunya, kedua mimpi ini ada sosok baru.

Belakangin Umi terus.

Jadi belum tahu mukanya.

Jalan 2 bulan ada kejadian lucu lagi.

Kerabat tiba-tiba block Whatsapp aku.

Aku juga kurang paham.

Kenapa doi gitu.

Singkat cerita, jawaban yang aku dapat ga semua dari mimpi.

Seperti kebanyakan orang.

Tapi semua jawabanku dibayar cash

Si Mantan,

Dulu memang aku sudah kasih jalan terakhir kalinya buat mencoba benar-benar terakhir kalinya.

Harga diri tetap harga diri.

Si Mantan merasa sudah total bahkan harga dirinya ga dilihat sama keluargaku.

Resiko hubungan lama dari SMA.

Mayoritas.

Kita memutuskan jalan masing-masing.

Tanpa memutus silahturahmi.

Orang Ini,

Memang semenjak doi kerja, aku merasa dia sudah banyak berubah.

Beda dari awal yang aku kenal.

180 derajat.

Mungkin dosaku dulu ke dia masih dibalas sampai sekarang.

Intinya, dia juga sudah memiliki hati yang lain.

Terakhir, cerita Kerabat ya seperti diatas sebelumnya.

Aku tetap berdoa dan menjalankan salat Istikharah

sampai dapat jawaban pasti.

Singkat cerita, tiba-tiba ada teman SMP menghubungi lewat LINE.

Robin (Udah gatau mau disamarin pake plesetan apalagi. Hahaha)

Padahal, dulu pas SMP, kita berdua cuman sekedar teman yang say hi aja.

Ga pernah ngobrol banyak.

Ga pernah duduk sebangku.

Pokoknya bener-bener cuman temen SMP.

Awalnya doi cuman ngajakin nonton dan mau pesen macaroni schottelku.

Jalan 2, 3 kali, ini yang bikin aku agak melongo.

Doi tetiba ngajakin nikah.

Antara ga percaya sama kirain guyon sih.

Pas doi bilang,
Aku serius, nih.
Akhirnya aku menyambut itikad baiknya.

Aku bilang bakal nyampein ini ke Umi.

Aku juga ga langsung percaya loh.

Aku liat cara dia "memproses"nya.

Dan diluar dugaan, udah kayak air aja ngalir.

Aku bilang Umi dan Umi setuju.

Aku dikenalin ke Bapak Ibunya.

Abis dikenalin, Bapak Ibunya setuju sama maunya Robin kalau mau lamaran tahun ini

dan nikah taun depan.

HOLY CRAP!!!

Bener-bener bikin melongo.

Tapi emang gini kenyataannya. Hahaha...

Dan suatu malem, tiba-tiba Umi bilang
Umi loh uda ga pernah mimpi lagi semenjak kamu sama Robin.
Eng.. Ing.. Eeeeenngggg!!

Ga tau deh tanda apa ini.

Sampai sekarang aku tetep minta sama Allah.

Kalau ini memang direncanakn dan diridhoi sama Allah, minta kelancaran selalu sampai seterusnya.

AMIIIINNNNN...

Sabtu, 16 Juni 2018

1 Syawal 1439 H

Happy Eid Mubarak everyone!

Taqqaballahumina wa minkum ya gengs

Semoga amalan di bulan Ramadhan kemarin bisa diterima Allah SWT

Dan menjadi revolusi lebih baik lagi di Ramadhan berikutnya.

Amiiin.

Gimana gengs?

Uda dapet pertanyaan apa aja? Hahahaha :p

Ya paling klise lah ya
Kapan lulus?
Kapan kerja?
Kapan nikah?
Kapan punya anak?
dan blaaaa bla bla.

Yaaaaa menurutku sih it's ok buat kepo masalah privacy.

Cuman, Hello!

Itu sensitif. Dan kita lagi jalin silahturahmi.

Jangan dirusak dengan hal2 yang sensitif kayak gitu!

Alhamdulillah sih selama ini ga perna ditanya gitu.

Sindir iya. He he he

Cuman ya aku hanya bisa mengamini saja.
Looooh yaopo? Jarene ambe arek iku. (Loh gimana? katanya sama anak itu.)
Ya minta doanya aja supaya dilancarin.
Menurutku sih itu kata paling ampuh buat "meredam"

Masih tanya aja, tinggal aja makan opor. He he he

Semua orang pasti ingin terkabul apa yang ditanyakan.

Pengen cepet lulus.

Pengen cepet dapet kerja.

Pengen cepet nikah.

Pengen punya anak.

Manusiawi.

Tapi sesama manusia, kita sama-sama saling mendoakan saja.

Jangan malah ditanyain mulu kayak maling ayam.
Mudah-mudahan cepet lulus yaaa. Biar cepet kerja.
Mudah-mudahan cepet dapet kerja yaaa. Biar cepet ketemu jodoh.
Mudah-mudahan cepet nikah yaaa. Biar Umi bisa gendong cucu.
Amiiiiinnnn.

Itu semua kan doa baik. Kalo diomongin gitu orangnya sensi, baru ditanyain. Uda makan belom?!

Hahahaha.

Intinyaaaaa, moment lebaran adalah moment yang harus dipergunakan sebijak mungkin.

Ga pas lebaran juga sih.

Tiap moment harus dipergunakan sebijak mungkin.

Lebaran moment dimana saudara jauh mbelani jauh-jauh dateng ke saudara satunya,

hanya untuk menjalin silahturahmi.

Meminta maaf atas kekhilafan.

Mempererat hubungan dengan cerita baru.

Nikmatilah momentnya.

Jangan dibuat "kesempatan" yang seperti contoh diatas.

Atau makin memperkeruh suasana a.k.a ngegosip.

Kembali lagi ke awal.

Kembali suci.

Minggu, 18 Februari 2018

Orang Tua

Orang tua mana yang ingin anaknya sengsara?

Orang tua mana yang ingin anaknya merasakan susah?

Saya rasa tidak ada.

Saya rasa,

hanya orang - tua yang tidak merasa punya anak,

yang bisa 'melihat' anaknya seperti itu.

Prespektif.

Semua orang tua pasti punya pandangan masing-masing.

Bagaimana cara beliau-beliau mendidik,

mengajarkan,

menasehati tiap-tiap anaknya.

Tapi terkadang 'posisi' orang tua menjadi 'kekuatan tersendiri'

Untuk memenuhi egonya yang terkadang salah.

Bahkan fatal.

Terkadang.

Banyak anak-anaknya harus 'menelan' ego dari orang tua.
Kamu belum ngerasain jadi orang tua gimana?
Kamu belum tau punya anak gimana?! 
Pada dasarnya,

anak yang sudah dewasa,

setidaknya dia sudah bisa 'merasakan' menjadi orang tua.

Terkadang ego anak pun ada.

Mayoritas ego realitanya.

Terkadang pula,

orang tua sering 'menyalahkan' pemikiran anak tersebut.

Dianggap tidak menghormati.

Kembali lagi pada hukum alam.

Bila kamu ingin dihormati, hormatilah orang lain.

Terlepas konteks apa pun.

Hargai anakmu berpendapat.

Hormati hak anakmu untuk mengetahui ego apa yang kau takutkan.

Dalam agama saya, bagaimana pun orang tua 'dianggap' benar.

Saya setuju.

Tapi apakah orang tua tidak ingin mencoba untuk memahami,

sisi anak yang dianggap 'benar'?

Tapi apakah anak harus jadi 'korban' keegoisan orang tua berdasarkan restu?

Senin, 29 Januari 2018

Jelas

Semua yang ga jelas,

Jatuhnya pasti ga enak.

Jelas.

Hitam ya gelap. Putih ya terang.

Jelas.

Aku masih ga tau 'jelas' ku bakal kayak gimana.

Jujur,

Setelah masalah mantan selesai,

Jatuhnya kayak uda ga ada pandangan.

Bukan alay atau galau,

Jatuhnya itu makin ga tau mau ngapain,

Mau gimana,

Mau apa.

Karena ada salah satu support system ku yang "rusak".

Sama hal kayak jodoh.

Uda ga tau.

Mau sama siapa.

Mau ngapain.

Mau apa.

Mau gimana.

Kayak makin ga jelas arahnya kemana.

Makin males rasanya kenal cowok.

Yang jelas-jelas aja lah.

I need a job.

Aku butuh bantuin orang rumah.

Jelas kan?

Selasa, 23 Januari 2018

Teman

Di akhir tahun 2017 adalah bulan-bulan paling berat.

Menurutku.

Banyak masalah yang dateng secara mendadak.

Masalah keluarga,

Masalah rumah,

Masalah pribadi.

Banyak orang bilang,

"Menyelesaikan masalah itu satu-satu"

Aku coba teori yang dikasih.

Perlahan aku selesaikan satu-satu.

Masalah keluarga,

Banyak dari kita pasti ada rasa ketidak cocokan antara anggota keluarga

Satu sama lain.

Dan salah satunya aku.

Aku ngerasain ga sejalannya sama salah satu anggota keluargaku.

Dan aku berusaha diam selama ini demi kesehatan ibuku.

Salahkah?

Ada Teman yang ngasi aku saran untuk bisa membuka semuanya,

Ga kerasa Temanku cerita masalah keluarganya,

Yang menurutku dia belum pernah cerita ke siapapun.

Diluar dugaan.

Dia punya masalah jauh lebih bisa buat aku simpatik.

Karena aku kenal dia sebagai orang yang paling ga punya masalah.

Menurutku.

Ga kerasa aku pun ikut nangis denger ceritanya dia.

Dan aku secara ga sadar ngeluapin emosi dan perasaan mendem selama ini.

Apa aja yang aku pikir, aku luapin.

Menurut Temanku, pikiranku terlalu berlebihan.

Dan dia menyarankan untuk aku bisa vokal di depan Umi,

Dengan membuka semuanya tentang Dia.

Yang resikonya dipertaruhkan.

Aku pun sedikit bimbang.

Aku mulai mikir lagi.

Apa ini pikiran berlebihanku?

Masalah rumah,

Ada kaitannya dengan masalah keluarga.

Yang dimana niat orang tua sama anak berbeda.

Banyak kejadian miss antara aku, Umi, dan Dia.

Dan semua harus aku yang "menyelesaikan".

Apa salah aku punya perasaan capek?

Apa salah kita ngerasa capek saat kita jalan jauh?

Apa kita ga butuh minum?

Apa kita ga butuh makan?

"Makan dan minum" ku cuman support satu sama lain.

Salah aku ngerasa kesel kita aku ga dikasih "makan dan minum"?

Sedangkan kata Temanku,

Aku ga boleh capek.

Karena satu-satunya yang bisa nyelesaikan dan ngenetralin cuman aku.

Aku juga manusia biasa yang bisa ngerasa capek ketika sudah jalan jauh.

Bukan manja.

Nangis pun diciptain buat ngenetralin emosi.

Apa nangis itu bisa dianggap manja?

Dan untuk masalah pribadi,

Lebih tepatnya masalah lovelife ku,

Memang sangat alot buat ngelancarin niat baik sama Mantan.

1000 alasan dibuat biar dipersulit.

Perasaanku.

Dan Temanku ngasi solusi yang menurutku masuk akal.

Kenapa aku bilang masuk akal?

Karena prinsipku, aku milih pasangan juga atas dasar ridho orang tua.

Apalagi orang tuaku tinggal Umi.

Mungkin yang ditinggal orang tuanya dalam keadaan meninggal tau rasanya.

Gimana mau bahagiain orang tua satu-satunya.

Teman bilang buat menyudahi hubungan sama Mantan daripada berlarut.

Dipaksakan juga percuma karena Umi bakal ngasi benteng.

Ga tau sampai kapan.

Teman nyaranin mending dicoba sama Orang Ini, yang direstuinya

Karena 1000 alasan tadi ilang gitu aja kalau menyangkut Orang Ini.

Akhirnya, buat masalah pribadi ku sudah bisa aku selesaikan.

Sesuai saran Teman kasih.

Aku sudah selesai dengan Mantan.

Yang sudah nemenin hampir 7 tahun.

Satu sisi, ga munafik, sedih.

Tapi rasa lega jauh lebih menguasai.

Rasa bersalah hilang sudah kayak asap rokok.

Yang kena angin langsung ilang.

Yaaaah...

Alhamdulillah.

Setidaknya 1 masalah yang paling 'menganggu' sudah lepas.

Untuk masalah Orang Ini, Allahualam.

Aku pasrah.

Setidaknya aku mau untuk mencoba.

Tapi perlahan.

Setidaknya sampai aku dapat kejelasan.

Makasi Teman.

Walaupun terkadang kamu menyebalkan,

Dengan cara berfikirmu, aku lega.

Bisa nyelesein 1 dari masalah yang menurutku berat.