Di akhir tahun 2017 adalah bulan-bulan paling berat.
Menurutku.
Banyak masalah yang dateng secara mendadak.
Masalah keluarga,
Masalah rumah,
Masalah pribadi.
Banyak orang bilang,
"Menyelesaikan masalah itu satu-satu"
Aku coba teori yang dikasih.
Perlahan aku selesaikan satu-satu.
Masalah keluarga,
Banyak dari kita pasti ada rasa ketidak cocokan antara anggota keluarga
Satu sama lain.
Dan salah satunya aku.
Aku ngerasain ga sejalannya sama salah satu anggota keluargaku.
Dan aku berusaha diam selama ini demi kesehatan ibuku.
Salahkah?
Ada Teman yang ngasi aku saran untuk bisa membuka semuanya,
Ga kerasa Temanku cerita masalah keluarganya,
Yang menurutku dia belum pernah cerita ke siapapun.
Diluar dugaan.
Dia punya masalah jauh lebih bisa buat aku simpatik.
Karena aku kenal dia sebagai orang yang paling ga punya masalah.
Menurutku.
Ga kerasa aku pun ikut nangis denger ceritanya dia.
Dan aku secara ga sadar ngeluapin emosi dan perasaan
mendem selama ini.
Apa aja yang aku pikir, aku luapin.
Menurut Temanku, pikiranku terlalu berlebihan.
Dan dia menyarankan untuk aku bisa vokal di depan Umi,
Dengan membuka semuanya tentang
Dia.
Yang resikonya dipertaruhkan.
Aku pun sedikit bimbang.
Aku mulai mikir lagi.
Apa ini pikiran berlebihanku?
Masalah rumah,
Ada kaitannya dengan masalah keluarga.
Yang dimana niat orang tua sama anak berbeda.
Banyak kejadian
miss antara aku, Umi, dan
Dia.
Dan semua harus aku yang "menyelesaikan".
Apa salah aku punya perasaan capek?
Apa salah kita ngerasa capek saat kita jalan jauh?
Apa kita ga butuh minum?
Apa kita ga butuh makan?
"Makan dan minum" ku cuman support satu sama lain.
Salah aku ngerasa kesel kita aku ga dikasih "makan dan minum"?
Sedangkan kata Temanku,
Aku ga boleh capek.
Karena satu-satunya yang bisa nyelesaikan dan ngenetralin cuman aku.
Aku juga manusia biasa yang bisa ngerasa capek ketika sudah jalan jauh.
Bukan manja.
Nangis pun diciptain buat ngenetralin emosi.
Apa nangis itu bisa dianggap manja?
Dan untuk masalah pribadi,
Lebih tepatnya masalah
lovelife ku,
Memang sangat alot buat ngelancarin niat baik sama Mantan.
1000 alasan dibuat biar dipersulit.
Perasaanku.
Dan Temanku ngasi solusi yang menurutku masuk akal.
Kenapa aku bilang masuk akal?
Karena prinsipku, aku milih pasangan juga atas dasar ridho orang tua.
Apalagi orang tuaku tinggal Umi.
Mungkin yang ditinggal orang tuanya dalam keadaan meninggal tau rasanya.
Gimana mau bahagiain orang tua satu-satunya.
Teman bilang buat menyudahi hubungan sama Mantan daripada berlarut.
Dipaksakan juga percuma karena Umi bakal ngasi benteng.
Ga tau sampai kapan.
Teman nyaranin mending dicoba sama Orang Ini, yang direstuinya
Karena 1000 alasan tadi ilang gitu aja kalau menyangkut Orang Ini.
Akhirnya, buat masalah pribadi ku sudah bisa aku selesaikan.
Sesuai saran Teman kasih.
Aku sudah selesai dengan Mantan.
Yang sudah nemenin hampir 7 tahun.
Satu sisi, ga munafik, sedih.
Tapi rasa lega jauh lebih menguasai.
Rasa bersalah hilang sudah kayak asap rokok.
Yang kena angin langsung ilang.
Yaaaah...
Alhamdulillah.
Setidaknya 1 masalah yang paling 'menganggu' sudah lepas.
Untuk masalah Orang Ini, Allahualam.
Aku pasrah.
Setidaknya aku mau untuk mencoba.
Tapi perlahan.
Setidaknya sampai aku dapat
kejelasan.
Makasi Teman.
Walaupun terkadang kamu menyebalkan,
Dengan cara berfikirmu, aku lega.
Bisa nyelesein 1 dari masalah yang menurutku berat.