Kamis, 19 November 2020

Ayah

Apa kalian pernah merasakan sakit secara fisik maupun mental?

Apa tindakan yang kalian ambil kita mengalaminya?

Dengan cara apa kalian mengatasinya?

Aku pun pernah sakit.

Dan aku lupa rasanya terakhir sakit.

Yang aku ingat saat Alm. Ayah masih ada.

"Kamu kenapa?"

Pertanyaan ini yang selalu berhasil membuat aku menangis disaat sakit

hingga saat ini aku mengingatnya.

Aku sudah lupa rasanya menjadi orang sakit.

Ditanya apa yang aku rasakan disaat aku sakit.

Apa yang aku inginkan ketika aku sakit.

Dibiarkan istirahat tanpa berfikir apa pun.

Semenjak beliau meninggal,

pertanyaan itu sudah tidak pernah aku dengar.

Selalu terlontar untuk orang sekitar,

dari aku.

Semenjak beliau meninggal,

yang tertanam difikiranku hanya

aku harus sehat.

aku harus sehat.

aku ga boleh sakit.

percuma sakit.

ribet.

makan biaya.

mending duitnya dipake buat makan.

kenyang.

sehat.

Benar saja.

Alhamdulillah sakit cuman ga enak badan.

Terakhir sakit parah cuman panas tinggi dan asam lambung naik.

Berkat orang sekitarku mendukung aku seperti ini.

Mendukung untuk tidak peduli dan tidak sabar bila aku sakit..

Ingin aku segera sembuh bukan dengan cara mendoakan.

Kekesalan dan ketidak sabaran orang sekitarku adalah cara merawatku.

Dan aku memaksa badanku agar sembuh.

Agar tidak terlalu larut dalam ekspetasi keinginan dirawat

selayaknya orang sakit.

Gambaran ini yang membuat aku selalu lemah.

Ketika orang sekitarku yang sakit.

Aku tidak ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan.

Dan membuat badanku juga ikut merasakan lelah.

Aku ingin tidak memiliki empati ini.

Sungguh lelah.

Karena aku tidak bisa mengeluarkan ego ku disaat aku ingin menggunakannya.

Selalu kalah.

Bahkan ketika orang sekitarku mengeluarkan egonya,

aku membalas dengan empatiku.

Kamu kenapa?

Jumat, 15 Mei 2020

Salah...

Ya... selalu menjadi tempat salah...

Ketika penampilan tidak sempurna,

sarkasme hingga hinaan dengan mudah terdengar telinga yang lelah.

Ketika pelayanan pangan maupun kenyamanan tidak beres,

urutan hingga perintah serapah dengan mudah keluar dari mulut yang menyepelehkan.

Ketika kertas bernilai tidak cukup hingga kedepan,

pandangan sebelah mata dan kepercayaan pun turun sebelah.

Sungguh lelah...

Lelah untuk tidak disalahkan lagi...

Lelah berisik...

Lelah memakai urat...

Lelah berfikir...

Kenapa tidak lelah menangis?

Salahkah bila sejenak untuk merenung?

Salahkah ketika hati ini lelah,

untuk bersolek karena pandangan mata selalu haus?

Salahkah ketika hati ini lelah,

untuk merapikan semuanya karena selalu tertunduk ketika di tempat?

Salahkah ketika hati ini lelah,

untuk menahan ego yang diinginkan dalam bentuk energi?

Salahkah itu semua?

Salahkan aku memiliki emosi seperti ini,

ketika rasa kepercayaanku, kenyamananku, ketenanganku,

dianggap remeh dan lelucon?

Aku lelah... untuk sejenak....

Salah?

Senin, 11 Mei 2020

Emosi

Ingin bertindak gegabah,

ketika hal yang tidak diinginkan terjadi.

Rasa itu masih...

masih membayangi.

Gelisah, tidak percaya,

tecampur jadi satu.

Ingin mencoba melupakan.

Terbayang-bayang emosi itu.

Sampai kapan harus menyimpan ketidaknyamanan ini?

Berusaha memakai topeng,

ketika di depan orang.

Menampilkan dan mewujudkan tampilan

kalau semua baik-baik saja.

Sesak... hati ini.

Setiap hari harus bertarung dengan sesaknya rasa kecewa.

Sampai kapan aku betahan?

Aku juga manusia biasa.

Ingin marah, menangis, mengumpat, mengomel.

Bisakah mendengarnya?

Bisakah menerimanya?

Kemana harus ku lepaskan ini semua?

Lelah... sungguh...

Rabu, 29 April 2020

Bila baca ini,

Hatiku hancur.

Seperih inikah rasanya?

Seperti inikah rasanya terkhianati?

Dosa telah terjawab.

Sangat sakit.

Bukan tipe manusia yang bisa mengiyakan dan memaafkan,

bila sudah terulang untuk keduanya.

Ingin lepas tanggung jawab,

ingat tujuan dan keinginan akan dicapai.

Ya Allah...

banyak pertanyaan yang bisa disambung

dari kata eluhan tersebut.

Dan akhirnya menjadi kesimpulan doa baik.

Mudah-mudahan...

Tidak lupa selalu menyiapkan diri,

jika terjadi hal buruk sekali pun.

Siapkah hati ini?

Manusia biasa saja,

pasti akan mengeluh, memaki, mengutuk

kepada Tuhan Maha Menciptakan.

Aku pun bukan malaikat.

Tapi selalu berkeyakinan teguh,

Tuhan memiliki cara yang baik untuk hambaNya.

Setan kecil tak bisa diam.

Berbisik lirih untuk memperkeruh suasana.

Tergoda sedikit.

Ingin mencoba,

kembali kebiasaan buruk.

Hanya ingin balas dendam.

Setelahnya tidak peduli.

Berfikir kembali menjadi pandangan sedikit jernih.

Agar tidak mengikuti nafsu belaka.

Aku hanya manusia biasa,

bisa merubah takdir macam apa yang akan kujalani.

Kamis, 06 Februari 2020

3 tahun

Halo temen-temen pembaca setiaku.

Ga kerasa udah 3 tahun aku nulis blog ini.

Yaaaa... walaupun ada beberapa kali aku ga nulis juga hehe.

Lucu ya kalo diurut aku uda cerita apa aja.

Sampe kucing2 pun aku sebutin.

Cian kucingku sekarang tinggal 1.

Aku juga ga bisa ngerawat becos mai bojo tidak membolehkan merawat.

Lebih tepatnya sih ga bolehin tinggal 1 rumah.

Bolehnya ditarok di teras rumah.

Kan aciaaaan :((

Mungkin ada yg minat nge-adopt bisa cusss berkabar sama aku yaaa.

Balik lagi ke topik,
kira-kira apa yg aku ceritain bisa menginspirasi kalian ga ya? 
bisa di terima ga ya sama kalian?
kira-kira nulis apalagi ya biar kalian "terhibur"? 
Itu pikiran yg selalu ada di kepalaku kalau pas mau nulis blog,

mau ngepost blog. bahkan pas udah tayang, masih aja gitu kepikirannya.

Tapi aku selalu optimis dong.

Insya Allah tulisanku atau tulinku (tulisan inspirasiku hehe),

setidaknya bisa sedikit bikin kalian tenang yaw.

Tanpa kalian/ cerita-cerita kalian, aku ga mungkin buat blog ini.

Jujur, kepikiran buat blog gegara pengen curhat doang kok.

Aku pribadi ga terlalu suka buat cerita ke orang.

Jadi aku sok ide aja bikin blog ini.

Buat cerita masalahnya dengan sudut pandangku sendiri.

Gituuuu...

Kalau kalian ada pandangan sendiri dan pengen berbagi sama aku,

cus boleh ketikan seluruh abjadnya di kolam renang,

jayus hahahaha.

Kolom komentar gaaeeesss.

Teruuuusss, kalo kalian ada masalah juga dan mau share ke aku juga bisa.

Cus ceritain di emailku aja di curhatdisinisamaaku@gmail.com

Aku tunggu cerita kalian yaaa. Muah!

Selasa, 28 Januari 2020

Setahun lalu

Belum sempet aku ceritain buat kalian

kejadian apa aja yang aku lewati.

Sedih, senang, kecewa,

seru deh pokoknya.

Kita mulai dari awal tahun aja ya...

dan yang pasti seingetku ajaaaa.

Uda lumayan lama jadi sedikit banyak memorinya ada yg lupa hehe.

Oke. Di awal tahun,

lebih tepatnya trimester di tahun pertama ( kayak bunting aaaaje...),

alhamdulillah sudah sah menjadi istri orang.

Dan kita bener-bener ngerasain bener-bener rumah tangga.

Cuman punya duit 5 ribu pas tanggal tua.

Berantem so pasti.

Keluarga ada yg miss comunication.

Seru lah pokoknya.

Dan pertanyaan umum pada tahun pertama nikah,
"Kapan isi?"
"Uda isi ta?"
"Nunda ta?"
Banyak per-ta ta-an selanjutnya.

Dan selalu aku jadiin jawaban positif doooong.

Doanya aja.

Kasi tahu dokter yg bisa "tokcer"

Minta saran.

Daripada dibuat stress ya khaaannn...

Sans ajaaaa

Yaaa walaupun aku sendiri pasti ada titik

dimana aku juga ngerasa "apaan sih".

Tapi balik lagi,

semua kudu dibuat positif.

Impact buat aku pun ga terlalu berat juga.

Geser ke trimester kedua.

Ya masuk bulan-bulan Ramadhan kan ya.

Alhamdulillah keinginan aku pun jadi juga.

Puasa bareng suami hehe.

Jadi ibadahnya kayak lebih enak gitu.

Bisa ke masjid bareng,

ga sempet ya jama'ah di rumah.

Sahur bareng.

Dan yang pasti,

aku baru pertama kali solat id loh selama 26 tahun ini.

Ibu mertua pun sampe kaget kalo aku selama ini ga pernah solat id

pas lebaran.

Soalnya Ayah sendiri ga perna "membiasakan" buat solat id.

Dan kondisi Umi juga sakit.

Jadi, otomatis aku sendiri ga pernah tau gimana rukunnya solat id.

Sampai aku nanya tuntunan solatnya ke Suami sama Ibu mertua.

Aku juga akhirnya nambah saudara lagi.

Maklum. Sodaraku termasuk dikit banget.

Kalo pas lebaran ya kesitu-situ doang.

Dan untuk trimester terakhir,

ini trimester yang bener-bener roller coaster banget.

Senengnya ketinggian, sedihnya pake banget nget nget.

Senengnya adalaaaahhhh...

sahabatku akhirnya nikah!

Kalau mau cerita sebelumnya, cusss klik cerita best-friend ini yaaa...

Ikut haru, seneng, bahagia.

Apalagi sekalian liburan bareng keluarga cuamik hehe.

Dan ini bagian yg paling sedih.

Inhale... Exhale...

Umi meninggal :)

Umi akhirnya sudah ga ngerasain sakitnya lagi.

Umi uda sembuh sekarang.

Udah ketemu Ayah di Surga :)

Umi sebelumnya uda sakit diare hampir seminggu.

Dan kebetulan doi juga pas ga mau mam.

Sambat perutnya sakit lah, ga enak, dll.

Singkat cerita, ya Umi kondisinya makin menurun pas dirawat di RS.

Hampir seminggu.

Umi berjuang.

Tapi Allah lebih sayang Umi.

Gapapa ya, Mi.

Umi sama Allah sekarang.

Biar sehat terus dan bakal ngumpul disana nanti sama Ayah juga hehe.

Yup! Itu tadi "rangkuman" cerita 2019 ku.

Dan alhamdulillah masih menikmati pacaran sama bojo.

Minta doa dan saran yaaa buat cepet dapet ponakan online kalian hehe.

Kita juga ikhtiar terus kok.

Ini cerita 2019 ku, mana cerita kalian? ;)

Jumat, 17 Januari 2020

2020

HAPPY NEW YEAR EVERYONE!!

Ga kerasa uda masuk tahun baru lagi.

Positif mungkin kata yang harus aku tanam mulai sekarang.

Pandangan,

Harapan,

Pikiran.

Harus positif.

Dan semua juga harus diimbangi dengan "konsultasi" ke Yang Maha Kuasa yaa...

Hehe.

Semua ga ada yang ga mungkin.

Logikanya,

Dia yang mengatur kita dari belum bernyawa

sampai sudah bisa hidup seperti ini.

Ya kudu bergantung sama Dia.

Logika Dia mungkin tidak masuk logika kita.

Tapi kita harus menerapkan logika yang tak masuk akal ini.

Karena Dia sudah menjanjikan kepada kita.

Caranya saja yang berbeda.

Langsung dikabulkan,

diberikan cara untuk berfikir dulu,

dimudahkan disaat terakhir,

diberikan jalan untuk berusaha dulu,

dan masih banyak cara Dia untuk memberikan "jalan" yang harus kita tempuh.

Aku kurang setuju kalau ada kalimat,

usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Kurang loh guys. Aku bilang kurang.

Ojok mbok bully aku haha.

Mungkin lebih tepatnya,

doa dan usaha tidak akan mengkhianati hasil apapun.

Sedikit cerita. Hanya niat menginspirasi yaaa...

Suami sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu unversitas di Surabaya,

dari beasiswa yang dia dapat.

Harus lulus tahun ini. 2020.

Kalau tidak, dianggap mahasiswa reguler.

Membayar 10 juta/ semester.

Gaji suami pas itu cuman cukup makan, nyicil tanggungan, sama hidup berdua.

Kebayangkan duit darimane? dikire metik kali tuh duit.

Suami alhamdulillah memang tegun kalo masalah solat.

Fardhu, dhuha semuanya dikerjakan. ga pernah sekali pun dilewati.

Even itu lagi last minute, pasti diusahakan solat.

Kecuali sakit sih. Itu pun fardhu doang kalo pas lagi sakit.

Kembali ke kuliah doi,

suami sempet sumpek sama pesimis sama tesisnya.

Takut ga diterima.

Takut ga di approve.

Karena judulnya, sebenernya ga masuk sama jurusannya.

Dan kudu dikumpulin akhir Desember tahun kemarin.

Pokoknya pesimis aja doi.

Pas daftar maju, sempet ditolak karena TOEFLnya harus tahun 2019.

Sedangkan suami adanya pas 2017. bukan 2019.

Kebayangkan sumpeknya gimana doi?

pusing cuman gegara TOEFL, nyari cara gimana biar "lulus" dan bisa daftar.

Dan ga luput juga,

solat dhuhanya. Dan so pasti doa ibu sama bapak gue a.k.a mertua gueeee...

Singkat cerita,

uda tinggal pasrah, bodo amat dah, jual ginjal kalo perlu

buat bayar per semester semisal jadi molor.

Aku berusaha nguatin suami.
"Jangan gitu, Yang! Ayo cari cara supaya tembus bisa daftar!"
"Lah gimana lagi. Kaprogdiku ya ga bisa ditemuin. Mau ga mau kudu nembak TOEFLnya" (dipalsu maksud doi)
"Ya jangan! Kalo ketauan malah bahaya lah!"
Intinya doi mau jalan pintas. Dan aku mau jalan haaaaalal.

Pikiranku cuman takut kalau ketahuan, otomatis didiskualifikasi,

dan harus ngembaliin biaya penalti sebesar... (JENG!! JENG!!)

EMPAT PULUH JUTA RUPIAAAAHHHH!!!!

itu doang yang bikin abdi teh mikir. Kumaha atuuuhhh.

Akhirnya, batas pengumpulan ditutup.

Dan jadwal maju sidang sudah diumumkan.

Tapiiii... pas suami ditanya, jawabannya belum dapet. Belum ada.

Jantung deg-degan. Serumah.

Ibu, bapak, aku, komat-kamit semua.

Tanggal pun uda tutup buat ngasi jadwal sidang.

Aku suruh suami buat tanya ke kampus.

Tanya jadwalnya sidang.

Kebetulan suami juga coba ngelamar ke tempat kerjanya yang sebelumnya.

Suami juga ternyata bawa TOEFL palsu yang uda di edit.

Tanpa sepengetahuan.

Aku yang di rumah Ibu, nganterin Ibu ke pasar.

Pulang-pulang, Bapak negur.
"Mbak, uda di kabari Robin?"
"Loh kenapa Pak? Ga bawa HP soalnya."
"Ada kabar baik. Mas Robin keterima kerja lagi sama sidangnya di approved"
ALHAMDULILLAH. Kalimat yang diucapin Ibu sama aku pas denger.

Ga lama suami pulang.

Cerita dari A-Z detailnya.

Ini baru 1 cerita yang aku share ke kalian.

Masih ada cerita lain yang aku juga ga abis pikir
Kok bisa ya?
Udah. Cuman kata itu doang yang keluar kalo diceritain "kemustahilan" suami.

Sempet "ngelarang" suami solat gegara keburu tutup tokonya.

Aku sebel kalo ga on time with appointment.

Apalagi kalo lagi urgent.

Udah beres urusan, akhirnya suami bilangin aku.
"pokoknya kalo udah waktunya solat, ya solat. Jangan takut ketinggalan, ga bakal dapet, ga bakal sempet, ga bakal bisa. Wong yang punya bumi loh Allah. Yang punya rencana loh Allah. Kok menuhankan lainnya. Ya kalo ga bisa dalam bahasa universal ya. Kayak ga sempet, ga jadi dllnya, ya berarti kamu dijauhin sama Allah. Atau disuruh sabar. Soalnya bakal dapet yang lebih baik. Aku ga pernah takut ga dapet/ ga sempet/ ga bisa. Yang ngatur Allah, ngapain bingung." 
Sebelku seketika malu sendiri.

Langsung auto-istighfar banyak.

Langsung minta maaf sama bojo kalo khilaf.

Aku bener-bener ngerasa, "kepasrahan"ku belum sepenuhnya total sama Pencipta.

Masya Allah...

Semenjak itu, aku bener-bener uda bodo amat sama urusan dunia.

Mungkin itu kali ya yang dinamain khusyuk.

Jadi pikirannya harus pasrah sama urusan Allah,

bodo amat sama urusan duniawi.

Itu aja sih yang pengen aku share.

Insya Allah menginspirasi di tahun baru yang luar biasa ini yaaa!

xoxo